wanita

Wanita Rusia Ini Dituduh Memata-Matai AS, Menyusup di Kampanye Pilpres AS 2016


Berita Harian – Seorang wanita asal Rusia –sebagai terdakwa terakhir– yang dituntut dalam penyelidikan federal terkait campur tangan pada pemilu presiden AS pada 2016, disebut mendapat perintah langsung dari pusat kekuasaan Rusia di Kremlin, Moskow.

Maria Butina (29), nama terdakwa wanita itu, dituduh terlibat dalam “organisasi penyusup yang memiliki pengaruh dalam politik Amerika, dan bertujuan memajukan kepentingan Federasi Rusia”.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Selasa (17/7/2018), Butina bersama beberapa pejabat militer Rusia didakwa. Dalam penyidikan dugaan campur tangan pemilu AS 2016, yang dipimpin oleh Penasihat Khusus Robert Mueller.

Sebagian besar dari keseluruhan terdakwa adalah perwira intelijen.  Diduga kuat melakukan peretasan via serangan terkoordinasi di Komite Nasional Demokrat, Kampanye Donald Trump, dan kantor pribadi Hillary Clinton.

Kehadiran sosok Butina dapat dilihat dalam rekaman video di salah satu kampanye Donald Trump pada 2015 lalu. Di mana ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana visi tehadap hubungan AS dan Rusia.

Presiden Trump menjawab bahwa dia mempertimbangkan untuk mencabut sanksi terhadap Kremlin. Mengatakan kepadanya: “Saya yakin saya akan berteman baik dengan Putin … Saya tidak berpikir Anda akan membutuhkan sanksi.”

Butina, yang ditangkap pada Jumat, 13 Juli 2018, juga dituduh bekerja di bawah perintah langsung salah seorang pejabat tingkat tinggi di pemerintahan Rusia. Yang konon dulunya merupakan sosok penting di parlemen dan bank sentral Rusia.

Tuduhan itu juga berkaitan dengan temuan bukti bahwa Butina pernah menjembatani oknum pejabat tinggi Rusia. Dengan beberapa figur politik AS, yang dekat atau terkait dengan kampanye Trump pada pemilu 2016.

“Orang nomor satu AS (Donald Trump) bekerjasama dengan Butina untuk mengatur perkenalan (orang Rusia) dengan orang-orang Amerika yang memiliki pengaruh politik, termasuk organisasi yang mempromosikan hak-hak senjata … untuk tujuan memajukan agenda Federasi Rusia,” bunyi surat dakwaan.

Ditambahkan oleh laporan surat kabar Washington Post, advokasi yang dilakukan oleh Butina terhadap isu senjata dan ketertarikan dalam politik AS telah terdokumentasi dengan baik.

Koran yang berbasis di Washington DC itu menggambarkan Butina sebagai “aktivis progresif”. Mendirikan kelompok berjuluk Hak Beruang Senjata” pada tahun 2017.

Kala itu, Butina membantah tuduhan pemerintah AS bahwa ia bekerja sebagai agen asing atau mewakili kepentingan Rusia.

Leave a Reply