Sosok wanita istimewa di balik pertemuan Trump dan Kim Jong-un


Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menggelar KTT di Capella Hotel, Pulau Sentosa, Singapura kemarin. Pada kesempatan tersebut, kedua pemimpin negara tidak didampingi oleh pasangan masing-masing, yakni Melania Trump dan Ri Sol-ju.

Adik Kim, Kim Yo-jung, yang semula diperkirakan bakal mendampinginya juga tidak dilibatkan dalam sesi dialog. Yo-jong hanya mendampingi Kim dalam sesi makan siang bersama.

Kendati demikian, ada sosok wanita yang dilibatkan dalam pertemuan keduanya. Dia adalah satu-satunya perempuan yang berada dalam ruangan bersama Donald Trump, Kim Jong-un, dan sejumlah pejabat elite AS dan Korut.

Dikutip dari laman Time, Rabu (13/6), perempuan tersebut adalah Lee Yun-hyang, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Kala itu, dia mendapat mandat menjadi penerjemah.

Selain menjadi juru bicara, dia juga mengepalai divisi layanan penafsiran Kementerian Luar Negeri AS. Sosoknya dinilai menjadi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dalam negosiasi tersebut.

“Dia tidak mencoba untuk menjadi bintang dalam KTT tersebut,” kata Frank Aum, seorang ahli Korea Utara di Institut Perdamaian AS di Universitas Johns Hopkins, soal sosok Lee Yun-hyang.

Lee sudah cukup lama bekerja di Kementerian Luar Negeri dan Gedung Putih, sejak era pemerintahan Presiden George W. Bush dan Barack Obama.

Lee bahkan dilaporkan ikut hadir bersama Trump beberapa waktu lalu untuk menyambut tiga WN AS yang dibebaskan oleh Korea Utara.

Perempuan tersebut dianggap berjasa menjembatani komunikasi antara Donald Trump dan Kim Jong-un.

Lee Yun-hyang dilaporkan memperoleh gelar master bidang interpretasi dan terjemahan dari Hankuk University of Foreign Studies di Seoul, Korea Selatan. Dia juga menerima gelar Ph.D. dari Faculty of Translation and Interpreting di University of Geneva pada 2009.

Sebelum bekerja untuk Kemenlu AS, dia sempat mengajar di Monterey Institute of International Studies di Middlebury College, California, dan Ewha University di Korea Selatan, serta tergabung dalam International Association of Conference Interpreters.

Meskipun memiliki keahlian yang mumpuni, tugas Lee menjembatani komunikasi Kim dan Trump sama sekali tak mudah. Apalagi kedua pemimpin sempat terlibat perang retorika dan saling ancam.

Pada tahun 2015, dia mengatakan pada surat kabar Korea Selatan, JoongAng Ilbo, tak ada yang pasti dalam bahasa diplomatik. Bahkan, kata “Ya” atau “Tidak”, artinya bisa abu-abu alias tak jelas.

Frank sendiri memuji keahlian Lee dalam menetralisir situasi selama pertemuan. Wanita tersebut bahkan bisa menerjemahkan segala lelucon disampaikan oleh Trump terhadap Kim tanpa membuat atmosfer pertemuan menjadi tegang.

Leave a Reply