Serangan Mortir Menghantui Afghanistan Selama Idul Adha, Ulah ISIS?


Kantor Berita ISIS, Amaq, pada Selasa, 21 Agustus 2018 mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan mortir di Istana Kepresidenan Afghanistan.

Rentetan roket menghantam ibu kota Kabul, tepat ketika Presiden Ashraf Ghani sedang menyampaikan pidatonya di tangah perayaan Idul Adha 1439H yang disiarkan langsung di sebuah stasiun televisi. Satu roket berhasil mendarat di dekat istana, dalam zona hijau.

Polisi di Afghanistan mengatakan, kelompok yang terdiri dari lima orang meledakkan diri saat bersembunyi di belakang Masjid Eidgah, sebelum menembakkan beberapa roket ke berbagai penjuru kota.

Satu sumber keamanan menyebut, setidaknya 10 roket diluncurkan, meski media lokal melaporkan ada lebih banyak lagi. Sementara itu, empat dari lima pelaku bom bunuh diri tersebut tewas.

Ketika Ashraf Ghani itu tengah berpidato, serangan roket tiba-tiba muncul menuju sisi utara dan barat laut Istana Kepresidenan. Suaranya terdengar hingga seluruh kota Kabul.

Selama siaran berlangsung, Presiden Ashraf Ghani dengan tenang mengakui adanya ancaman kekerasan. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah Afghanistan mengharapkan kesepakatan gencatan senjata dengan Taliban selama momentum Idul Adha kali ini.

“Kami mengumumkan gencatan senjata, memberikan kesempatan dialog antar pihak,” katanya. “Tapi semua pihak paham, ada beberapa kelompok dan individu yang merancang plot pertumpahan darah, mereka mengklaim akan melakukan sesuatu pada hari ini, tindakan yang akan membahayakan ketenangan rakyat.”

“Jika mereka percaya dapat menaklukkan bangsa ini dengan serangan roket, mereka harus berpikir ulang,” kata dia tegas.

Di lain pihak, Taliban menyatakan bahwa serangan itu tidak ada kaitannya dengan mereka.

Taliban Tidak Menanggapi Gencatan Senjata

Personel keamanan Afghanistan memblokade jalan dekat ledakan bom diri di Jalalabad, Selasa (31/7). Pria bersenjata menyerang gedung pemerintahan, membuat puluhan orang terperangkap setelah pelaku meledakkan bom bunuh diri. (AFP/NOORULLAH SHIRZADA)

Imbauan gencatan senjata dipandang skeptis oleh beberapa analis, mengingat bahwa pemberontak masih terus melakukan serangan. Bahkan, baru-baru ini Taliban menyerang kota Ghazni yang berlokasi strategis, dan menewaskan 120 orang, sebelum kemudian berhasil diusir oleh pasukan Afghanistan dan serangan udara AS.

Sejak tawaran Presiden Ghani pada Minggu 19 Agustus, pihak Taliban tidak membuat jawaban langsung, melainkan justru mengirim pesan campuran.

Kelompok itu pertama mengatakan bahwa pihaknya bermaksud untuk membebaskan 300 tahanan, tetapi pejuang Taliban kemudian menculik sekitar 150 penumpang bus pada hari Senin di Kunduz, di mana disebut hampir serupa dengan serangan mematikan oleh militan di kota utara itu pada 2015. Sebagian besar penumpang berhasil diselamatkan tanpa cedera oleh pasukan keamanan Afghanistan.

Sementara itu, para pejabat Rusia mengumumkan bahwa mereka telah mengundang Taliban untuk menghadiri pertemuan internasional di Moskow pada 4 September mendatang, terkait dengan konflik di Afghanistan. Pihak pemberontak diketahui menerima dan menyanggupi undangan tersebut.

Rusia mengatakan bahwa inisiatifnya akan menjadi pertemuan pertama yang melibatkan para pemberontak. Para pejabat Taliban di Kabul tidak berkomentar tentang hal itu.

Rusia juga mengundang pejabat Amerika Serikat, tetapi Kementerian Luar Negeri di sana mengatakan pada Selasa 21 Agustus, bahwa tidak ada perwakilannya yang akan hadir.

Leave a Reply