Pasien Wanita Ini Ternyata Punya Testis Selama 26 Tahun

Pasien Wanita Ini Ternyata Punya Testis Selama 26 Tahun


Berita Harian, Pasien Wanita Ini Ternyata Punya Testis Selama 26 Tahun. Aneh namun nyata, setelah sekian lama, seorang wanita di China baru memahami bahwa dirinya adalah pria. Hal itu diketahuinya usai menjalani serangkaian pengecekan medis, demikian layaknya dilaporkan China Press.

Sebagaimana diberitakan oleh Asia One, Jumat (30/11/2018), wanita dari Hunan ini mulanya mengeluh kepada dokter bahwa dirinya tak kunjung hamil pascamenikah selama setahun. Ia pun dianjurkan untuk lakukan pengecekan medis menyeluruh.

Pasien Wanita Ini Ternyata Punya Testis Selama 26 Tahun

Lalu ia terperanjat bersama hasilnya: ternyata seorang pria.

Pria 26 th. itu punya tubuh dan penampilan mirip wanita, namun laporan medis menyatakan bahwa dia secara ilmiah adalah pria.

Meskipun ia dianggap secara sosial sebagai perempuan, ia tak memahami sebenarnya ada testis tersembunyi di dalam tubuhnya. Itu akibat perkembangan gonad (kelenjar kelamin) yang tidak lengkap dan dianggap sebagai kelainan seksual.

Menjadi Pria…

Sementara itu, alih-alih merindukan rambut panjang layaknya gadis-gadis lain, remaja Afghanistan ini justru berlaku sebaliknya. Ia menyamar sebagai bocah Laki-laki selama lebih dari satu dekade, dipaksa oleh orang tuanya untuk jadi seorang anak laki-laki yang tak dulu mereka miliki.

Seperti dikutip dari Asia One, Senin 23 April 2018, Sitara Wafadar tinggal bersama lima saudara perempuannya. Ia hidup sebagai laki-laki yang dikenal bersama sebutan bacha poshi, yang di dalam bhs Dari merujuk terhadap seorang gadis kenakan pakaian layaknya anak laki-laki.

Dengan jadi Bacha Poshi, sangat mungkin Sitara bersama safe lakukan tugas-tugas seorang anak Laki-laki di negara patriarkal.

Perempuan berusia 18 th. yang tinggal bersama keluarga miskin di sebuah rumah terbuat dari bata lumpur di desa Provinsi Nangarhar, Afghanistan timur, itu udah berpura-pura jadi anak laki-laki di lebih dari satu besar masa hidupnya.

Setiap pagi, Sitara mengenakan kemeja longgar dan celana panjang dipadu sandal jepit yang umumnya dikenakan oleh pria Afganistan. Kadang-kadang dia menutupi rambut cokelat pendeknya bersama syal dan memperberat suaranya, demi menyembunyikan style kelamin aslinya.

“Saya tidak dulu berpikir bahwa aku seorang perempuan,” kata Sitara kepada AFP di pabrik batu bata di mana dia dan ayahnya yang udah lanjut usia bekerja enam hari seminggu sebagai buruh terikat — untuk membayar kembali duwit yang mereka pinjam dari pemilik– dan memberi makan keluarga.

“Ayah aku selalu menjelaskan ‘Sitara layaknya putra tertuaku’. Kadang-kadang … Saya menghadiri pemakaman sebagai putra sulungnya” – suatu hal yang dia tidak bakal dulu diizinkan untuk dilakukan sebagai seorang gadis.”

Bacha poshi punya sejarah panjang di Afghanistan yang sangat konservatif, di mana anak laki-laki lebih dihargai daripada anak perempuan yang lebih sering dikurung di rumah.

Biasanya keluarga yang tak punya pakar waris laki-laki sering memperlakukan anak perempuan layaknya laki-laki, agar sanggup lakukan tugas tanpa dilecehkan.

Lainnya, lebih dari satu perempuan sengaja jadi anak laki-laki agar sanggup nikmati kebebasan yang dirasakan oleh rekan pria di Afghanistan — sebuah negara yang memperlakukan wanita sebagai warga kelas dua.

Sebagian besar bacha poshi umumnya berhenti kenakan pakaian sebagai seorang anak laki-laki setelah raih pubertas. Tapi tak demikian bersama Sitara yang hingga kini tetap mengenakan baju laki-laki “untuk melindungi diri sendiri” di daerah pembakaran bata.

“Ketika aku bekerja, umumnya orang tak memahami bahwa aku seorang perempuan,” tutur Sitara.

“Jika mereka memahami seorang perempuan berusia 18 th. bekerja dari pagi hingga malam di pabrik batu bata, maka aku bakal hadapi banyak masalah. Aku lebih-lebih sanggup diculik.”

Leave a Reply