Hebat! Cerita Mereka yang Sudah Donor Darah Lebih dari 100 Kali

Hebat! Cerita Mereka yang Sudah Donor Darah Lebih dari 100 Kali


saratogaartsfestival – Mungkin bagi kebanyakan orang, donor darah bukan suatu agenda rutin yang kudu dilakukan. Tetapi berbeda dengan Eti Novianti, wanita berusia 45 tahun ini sudah beranggap donor darah suatu perihal yang musti dilakukannya setiap tiga bulan sekali.

Ditemui di Markas Pusat Palang Merah Indonesia (PMI), Eti mengaku bahwa awalannya ia tidak miliki tujuan apa-pun untuk mendonorkan darahnya, hanya hanyalah permintaan semata.

“Pertama kali donor pas SMA tahun 1991 pas 18 tahun, entah kenapa pas itu aku pengin, nggak tersedia alasan untuk nolong temen atau apa,” ujarnya, Jumat (25/1/2019).

Karena Unit Donor Darah (UDD) di Bogor pada pas itu hanya membuka sampai jam 12.00, Eti pun terpaksa kudu kabur dari sekolah di jam istirahat demi sanggup mendonorkan darahnya.

“Biasanya pas jam istirahat gerbang dikunci dan tersedia satpam, eh ini nggak tersedia satpam. Yasudah aku ditemani seorang kawan naik angkot sekali ke PMI,” lanjut Eti.

Akhirnya ia terasa ketagihan dan selamanya mendonorkan darahnya tiap tiap tiga bulan sekali. Hingga kelanjutannya ia wajib bekerja di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, ia terhitung berkenan pulang ke Bogor sampai tengah malam demi sanggup mendonorkan darahnya usai bekerja.

Setiap tiga bulan Eti tak dulu absen menambahkan sebagian darahnya itu, sampai kelanjutannya di usianya sekarang ia sanggup menggapai donor darah sebanyak 100 kali.

“Alhamdulillah sampai bulan Maret berkenan ke 106 kali,” ungkapnya.

Sama halnya dengan kakek berusia 76 tahun, yaitu FX Sudaryanto. Meskipun udah tua, tapi fisiknya tetap cukup bugar dan sehat lho. Ia yakin ini berkat rutinnya ia donor darah sejak usianya 40 tahun.

“Saya punyai visi misi, sebagai karyawan yang dermawan maka aku berinisiatif mendonorkan darah aku bagi yang membutuhkan. Setelah setahun 2 kali, kelanjutannya 3 bulan sekali rutin,” cerita Sudaryanto.

Kegiatan tiga bulan sekalinya pun dikatakan selamanya lancar, ia terhitung selamanya merawat kesehatannya dengan berolahraga secara tertata sehingga selamanya sanggup mendonorkan darah.

Namun sayangnya, sampai usianya menggapai 65 tahun, banyak UDD yang menolaknya dikarenakan batas umur maksimal. Sudaryanto bukan tipe orang yang suka menyerah, ia pun selamanya nekat melacak UDD yang berkenan menerimanya jadi donor.

“Saya dimana-mana ditolak, aku nekat saja nyumbang di Solo, eh diterima. Kalau dokternya tetap muda umumnya nggak boleh, tapi jika dokter tua boleh,” tuturnya.

Sudaryanto mengaku ia cuma wajib merawat kesehatannya sehingga selamanya sanggup mendonorkan darahnya. Manfaat donor darah pun dirasakannya menyebabkan tubuhnya jadi fresh dan bugar.

Akhirnya, Sabtu (26/1/2019), Eti dan Sudaryanto bakal meraih penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial yang bakal diserahkan oleh Presiden RI Joko Widodo sebagai apresiasi udah mendonorkan darahnya sebanyak 100 kali.

Leave a Reply