Donald-Trump-Tuduh-China-Meloloskan-Minyak-ke-Korea-Utara

Bikin Marah Rakyat Palestina, Donald Trump Pangkas Bantuan untuk Rumah Sakit di Sana


Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pemangkasan bantuan dana senilai US$ 25 juta untuk perawatan warga Palestina di rumah sakit di Yerusalem Timur.

Menurut laporan, dana itu akan dialihkan untuk kepentingan lain, menurut pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada Sabtu, 8 September 2018, seperti dikutip dariĀ VOA Indonesia, Senin (10/9/2018).

Trump menyerukan peninjauan bantuan Amerika Serikat bagi Palestina pada awal tahun ini. Peninjauan tersebut guna menjamin dana itu akan digunakan untuk berbagai proyek yang menyangkut kepentingan nasional AS dan tidak merugikan pembayar pajak.

Pemotongan bantuan itu adalah bagian paling baru dari rentetan tindakan yang diambil pemerintahan Presiden Trump yang membuat marah rakyat Palestina, termasuk pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan memindahkan kedutaan AS ke kota itu dari Tel Aviv.

Bulan lalu, pemerintah Trump mengatakan akan menghentikan bantuan ekonomi bagi Palestina senilai US$ 200 juta. Pada akhir Agustus, Trump juga menghentikan semua bantuan bagi para pengungsi Palestina –yang dialirkan melalui perantara Badan PBB untuk Urusan Pengungsi Palestina (UNRWA).

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan pemangkasan bantuan yang paling baru itu adalah “bagian dari usaha Amerika untuk menghilangkan masalah Palestina” dan mengancam kehidupan ribuan warga Palestina dan ribuan pekerja rumah sakit.

AS Setop Seluruh Dana Bantuan kepada Badan PBB Urusan Pengungsi Palestina

Ilustrasi Bendera Amerika Serikat (Wikimedia Commons)

Akhir Agustus lalu, Amerika Serikat (AS) mengakhiri seluruh pendanaannya untuk badan PBB yang ditugasi membantu pengungsi Palestina, menyebut alasan bahwa organisasi itu mengalami “cacat yang tak dapat diperbaiki,” ujar pihak Kementerian Luar Negeri AS pada Jumat 31 Agustus 2018.

“Amerika Serikat tidak akan lagi melakukan pendanaan lebih lanjut untuk operasi organisasi yang tidak dapat diperbaiki ini,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Heather Nauert dalam sebuah pernyataan Jumat 31 Agustus 2018, seperti dikutip dariĀ CNN, Minggu 2 September 2018.

Washington DC telah lama menjadi donor tunggal terbesar bagi United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), menyumbangkan lebih dari US$ 350 juta kepada lembaga itu pada 2017.

Badan itu memberikan layanan pendidikan, kesehatan, dan sosial di Tepi Barat, Gaza, Yordania, Suriah, dan Lebanon kepada lebih dari 5 juta pengungsi Palestina yang terdaftar.

UNRWA memberikan bantuan pendidikan bagi sekitar 500 ribu anak di hampir 700 sekolah, dan memberikan layanan kesehatan bagi lebih dari 9 juta pasien di hampir 150 klinik kesehatan primer setiap tahun.

Pada Januari 2018, Amerika Serikat mengatakan akan memangkas US$ 65 juta dari total anggaran awal US$ 125 juta yang diharapkan akan diserahkan kepada UNRWA pada awal tahun ini. Alasannya, AS ingin agar UNRWA untuk mereformasi internal organisasi dan mendesak agar negara-negara lain harus meningkatkan jumlah dana bantuaan yang mereka kontribusikan kepada badan tersebut.

“Ketika kami memberikan sumbangan AS sebesar US$ 60 juta pada Januari, kami menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi bersedia menanggung beban biaya UNRWA selama bertahun-tahun,” kata Nauert.

“Beberapa negara, termasuk Yordania, Mesir, Swedia, Qatar, dan Uni Emirat Arab telah menunjukkan kepemimpinan dalam mengatasi masalah ini, tetapi respon internasional secara keseluruhan belum cukup.”

Nauert mengkritik model bisnis dan praktik fiskal UNRWA sebagai “tidak berkelanjutan” dan telah berada dalam “mode krisis” selama bertahun-tahun.

“Kami sangat peduli dan sangat prihatin mengenai dampak pada orang-orang Palestina yang tidak bersalah, terutama anak-anak sekolah,” ujar Nauert, yang kemudian menyebut bahwa UNRWA telah mengalami kegagalan “untuk mereformasi dan mengatur ulang cara UNRWA dalam melakukan bisnis,” sebagai alasan bagi AS untuk tetap menghentikan bantuan.

Chris Gunness, juru bicara UNRWA, menyuarakan “penyesalan mendalam” atas keputusan AS dan menolak kritik Washington terhadap organisasinya dan Palestina.

“Kami menolak kritik bahwa sekolah-sekolah UNRWA, pusat-pusat kesehatan, dan program bantuan darurat adalah ‘cacat yang tak dapat diperbaiki’,” kata Gunness.

“Program-program ini memiliki rekam jejak yang terbukti dalam menciptakan salah satu proses pengembangan manusia yang paling sukses dan berhasil di Timur Tengah. Komunitas internasional, para donor dan negara tuan rumah secara konsisten memuji UNRWA atas pencapaian dan standar organisasinya.”

Leave a Reply