bi

BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan

      No Comments on BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan


Berita Harian – Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate di posisi 5,25 persen. Hal tersebut didorong inflasi terkendali dan nilai tukar rupiah cenderung stabil usai BI menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Juni 2018.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menuturkan, ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan BI 7 days reverse repo tetap. Pertama, pergerakan nilai tukar rupiah. Sebelum BI menaikkan suku bunga acuan sekitar 50 basis poin, rupiah bergerak volatile. Josua menilai, usai BI naikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Juni, pergerakan rupiah stabil.

Selain itu, investor asing pun sudah masuk ke pasar obligasi meski pun di pasar saham masih catatkan aksi jual. Langkah BI menaikkan suku bunga acuan tersebut, menurut Josua menopang pergerakan rupiah.

Kedua, inflasi terkendali. Inflasi tahunan Juni mencapai 3,12 persen. Josua menuturkan, inflasi Juni 2018 yang ada momen Ramadan dan lebaran mencatatkan inflasi terendah. Inflasi Juni 2018 sebesar 0,59 persen. Ini termasuk inflasi terendah dalam 10 tahun terakhir.

Pada tiga tahun terakhir ini, perayaan Lebaran jatuh pada Juni mendorong inflasi Juni 2016 sebesar 0,66 persen dan inflasi Juni 2017 sebesar 0,69 persen.

Ketiga, kebijakan moneter the Federal Reserve. Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve Jerome Powell menyatakan akan kembali menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada semester II 2018 juga diantisipasi oleh Bank Indonesia.

“BI akan cenderung pertahankan suku bunga acuan di 5,25 persen,” ujar Josua, Kamis (19/7/2018).

Josua menuturkan, BI akan pertahankan suku bunga acuan juga untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Hal itu yang diharapkan oleh pelaku usaha sehingga mendukung perekonomian

Ada Ruang Kenaikan Suku Bunga pada Kuartal IV 2018

Hasil gambar untuk ilustrasi foto suku bunga

Akan tetapi, Josua melihat BI masih punya ruang menaikkan suku bunga acuan pada kuartal IV 2018. Ini sebagai antisipasi kebijakan moneter bank sentral AS.

“Jika rupiah kembali melemah dan the Fed menaikkan suku bunga, ini melihat pernyataan dari Jerome Powell cenderung hawkish, ada ruang pengetatan,” kata dia.

Pada semester II 2018, sentimen perang dagang masih membayangi perekonomian global. Pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan China terkait sektor perdagangan. Ditambah kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS.

Sedangkan dari internal, menurut Josua, defisit neraca transaksi berjalan juga masih jadi perhatian. Defisit neraca transaksi berjalan dikhawatirkan melebar membebani pergerakan rupiah.

Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia diperkirakan melebar seiring impor meningkat yang didorong aktivitas ekonomi dan investasi.  Namun, Josua memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan masih cukup sehat sehingga tidak memberikan kepanikan kepada pasar. Apalagi defisit fiskal rendah.

“Diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan antara 2-2,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB),” kata dia.

Leave a Reply