Apple Dituduh Pekerjakan Pegawai di Bawah Umur

Apple Dituduh Pekerjakan Pegawai di Bawah Umur

      No Comments on Apple Dituduh Pekerjakan Pegawai di Bawah Umur


Berita harian, Apple Dituduh Pekerjakan Pegawai di Bawah Umur. Apple belum lama ini dituding telah memperkerjakan buruh secara ilegal terhadap pabriknya.

Pasalnya, sejumlah buruh yang diperkerjakan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) tersebut, merupakan kalangan remaja di bawah umur. Mereka dikabarkan menjadi buruh untuk manufaktur Apple Watch.

Apple Dituduh Pekerjakan Pegawai di Bawah Umur

Menurut Info yang dilansir Ubergizmo via The Financial Times terhadap Selasa (30/10/2018), sumber selanjutnya terkuak dari instansi hak pekerja SACOM. L

embaga yang berbasis di Hong Kong ini menuding penyuplai Apple Watch, Quanta, telah memperkerjakan pelajar untuk pabrik Apple Watch.

Laporan terhitung mengungkapkan kalau Quanta dituduh merekrut pelajar ini bersama dengan iming-iming ‘magang’, namun terhadap kenyataanya para pelajar selanjutnya mesti bekerja di pabrik di dalam shift 12 jam tiap tiap hari.

Apple sendiri telah menanggapi tudingan tersebut. Mereka mengaku sedang melakukan investigasi laporan soal pelajar yang dipekerjakan sejak September 2018 selanjutnya itu.

“Kami tidak punyai toleransi terhadap perihal tersebut. Kami pastikan untuk mengambil langkah bersama dengan cepat kalau kami menemukan adanya pelanggaran terhadap kode etik penyuplai,” ujar Apple di dalam info resminya.

Menyamar Jadi Buruh, Mahasiswa Ungkap Misteri Pabrik iPhone

Terlepas dari buruh manufaktur Apple Watch, di awalnya terhadap 2017, seorang mahasiswa New York University diam-diam menghabiskan kala liburan musim panasnya menyamar menjadi buruh pabrik perakitan iPhone milik Pegatron di Tiongkok.

Mengutip laporan Phone Arena, Kamis (13/4/2017), penyamaran mahasiswa bernama Dejian Zeng ini, dilakukan untuk sebuah proyek dari kampusnya. Rupanya bekerja di pabrik smartphone premium sekelas iPhone tak membuat buruh di dalamnya menjadi lebih kaya.

Hari pertama bekerja, Zeng diberi tugas membubuhkan stiker dan memasang sekrup untuk iPhone 6s. “Pertama aku ditugaskan ke departemen perakitan dan pengujian kemasan. Kami bertugas mengemas iPhone. Setelah Agustus 2016, kami selanjutnya merasa perakitan iPhone 7. Saya lebih-lebih bekerja di dua pos, yaitu iPhone 6s dan iPhone 7,” kata Zeng.

Pada pabrik iPhone, keamanan pun diterapkan sangat ketat, tidak benar satunya bersama dengan penerapan detektor logam yang sangat sensitif. Para buruh dipaksa untuk melewati dua pos pengecekan keamanan bersama dengan deteksi logam. Selain itu, kala berada di di dalam pabrik, para buruh mirip sekali tak diperbolehkan membawa masuk ponsel dan alat elektronik lainnya.

Hal lain yang dilihat oleh Zeng adalah tiap buruh mesti multitasking dan siap dipindahkan ke bermacam posisi kapanpun mereka dibutuhkan.

Selain buruh perakit ponsel, orang yang bertanggung jawab terhadap hasil kerja mereka adalah pemimpin grup dan line manager. Penanggung jawab terhadap tingkat seterusnya ada manajer sesi, manajer divisi, dan direktur pabrik.

Situasi Kerja Kaku
Para buruh pabrik perakitan iPhone terhitung tak dulu mendapat peluang untuk dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi.

Parahnya, mereka terhitung mesti kerap lembur. Saat di pabrik, mereka tak diperbolehkan menyetel musik agar keadaan kerja menjadi lebih menyenangkan.

Dalam penyamarannya, Zeng berhasil menyatakan rumor yang menyebutkan buruh pabrik bekerja di dalam rentang kala kerja yang panjang namun bayarannya sedikit alias tak cocok bersama dengan beban kerja.

Demikian terhitung kala mesti lembur, mereka tak diberi kompensasi yang sesuai. Zeng misalnya, ia bekerja selama 12 jam sehari namun tiap harinya cuma dibayar 10,5 jam saja.

Dengan kerja keras yang dilakukan, seorang buruh perakit iPhone cuma dibayar US$ 450 per bulan (setara Rp 6 juta), tak lumayan untuk membeli iPhone yang mereka rakit.

Kemungkinan upah kecil inilah yang membuat lebih dari satu besar pekerja tak bertahan lebih dari 2 minggu dan pilih meninggalkan pekerjaannya.

Hal ini terhitung menjelaskan, mengapa pegawai pabrik iPhone justru memakai ponsel merk lain.

Meski tempat kerjanya adalah pabrik perakitan iPhone, para buruh pabrik mengenal Apple cuma sebagai klien saja.

Pihak Apple, cuma berkunjung sehari sekali untuk menegaskan peralihan produksi ke iPhone 7 berjalanan lancar. Mereka terhitung berkunjung untuk menegaskan pegawai tak ada yang bekerja lebih dari 60 jam seminggu.

Leave a Reply