alibaba

Alibaba Buka Institusi Riset untuk Sektor Ekonomi Digital


Alibaba bersama dengan penerima hadiah Nobel dan pakar ilmu sosial baru saja meresmikan platform riset terbuka Luohan Academy.

Platform berupa institusi tersebut dibuka dengan fokus pada sektor ekonomi digital. Luohan Academy juga akan bekerja sama dengan sejumlah badan riset internasional.

Selain sektor ekonomi digital pada awal pembentukan, Luohan Academy juga akan meneliti dampak dari teknologi terhadap masyarakat di masa depan.

Institusi ini akan berperan melengkapi fungsi dari DAMO Academy yang menjadi program riset global milik Alibaba.

“Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat secara cepat pula,” ujar Executive Chairman Alibaba Group Jack Ma melalui keterangan tertulisnya, Selasa .

“Jadi saat kita melihat berbagai keuntungan dari teknologi, penting juga bagi kita untuk memahami tantangan yang akan kita hadapi serta bagaimana kita dapat bekerja sama untuk menjawab tantangan tersebut,” lanjutnya.

Adapun konferensi pertama Luohan Academy sudah diadakan di Hangzhou pada pekan ini. Beberapa di antaranya membahas diskusi soal perubahan struktural teknologi canggih seperti big data, machine learning, kecerdasan buatan, dan robotika.

“Saya merasa kita hidup di zaman peralihan. Di satu sisi kita mendapatkan berbagai kemudahan yang dihasilkan oleh perubahan teknologi, tapi di sisi lain kita juga mendapatkan berbagai tantangan,” ujar Markus Brunnermeier, Edwards S. Sanford Professor of Economics, Princeton University dan anggota akademisi Luohan Academy.

“Kita harus berpikir bagaimana masyarakat akan menghadapi hal ini, terutama pada bidang ekonomi,” lanjut Alibaba.

Nama Luohan diambil dari filosofi ajaran Buddha Tiongkok, di mana ada 18 orang yang ‘dicerahkan’ dan ‘dibebaskan’ dari keinginan duniawi. Orang-orang ini merepresentasikan kebijaksanaan, keberanian, dan kekuatan.

Komite Akademisi Luohan Academy

alibaba

Komite Akademisi Luohan Academy mencakup para pemenang Nobel dan akademisi dari seluruh dunia seperti:

  • Patrick Bolton, Barbara dan David Zalaznick Professor of Business dari Columbia Business School
  • Markus Brunnermeier, Edwards S. Sanford Professor of Economics dari Princeton University
  • Bengt Holmstrom, Pemenang Nobel 2016, Paul A. Samuelson Professor of Economics dari Massachusetts Institute of Technology
  • Lars Peter Hansen, pemenang Nobel 2013, David Rockefeller Distinguished Service Professor in Economics, Statistics dari Booth School of Business & The College, University of  Chicago
  • Preston McAfee, mantan Chief Economist dan Vice President Corp di Microsoft
  • Christopher Pissarides, Pemenang Nobel 2010, Regius Professor of Economics dari London School of Economics
  • Yingyi Qian, Distinguished Professor dan Dean School of Economy and Management dari Tsinghua University
  • Alvin Roth, pemenang Nobel 2012, The Craig and Susan McCaw Professor of Economics dari  Stanford University
  • Thomas Sargent, pemenang Nobel 2011, W.R. Berkley Professor of Economics and Business dari New York University
  • Michael Spence, pemenang Nobel 2001, William R. Berkley Professor in Economics & Business, dari New York University Stern
  • Steve Tadelis, Professor of Economics, Business and Public Policy, Haas School of Business dari University of California Berkeley
  • Neng Wang, Chong Khoon Lin Professor of Real Estate & Professor of Finance dari Columbia  Business School
  • Shangjin Wei, Professor of Finance and Economics, Professor of International Affairs, dan N.T. Wang Professor of Chinese Business and Economy dari Columbia University
  • Wei Xiong, Trumbull-Adams Professor of Finance, dari Princeton University
  • Chenggang Xu, Quoin Professor in Economic Development, University of Hong Kong, Professor of Economics dari Cheung Kong Graduate School of Business

Leave a Reply